Pendekatan Psikologis Dalam Pemahaman
Konflik Etnis
A. Pendahuluan
Manusia adalah mahluk sosial yang hidupnya berkelompok dan saling memerlukan satu dengan lainnya. Dengan berkelompok, manusia juga bisa mendapatkan identitas, yakni sebagai bagian dari satu grup. Selain itu juga, dengan berkelompok seseorang bisa sangat mengurangi ketidakpastian dalam hidupnya dan membantu untuk memenuhi berbagai kebutuhannya, seperti keamanan (security). Dalam konteks yang lebih besar lagi, masyarakat dibentuk untuk menghilangkan kondisi ketidakstabilan. Rosseau menyatakan bahwa setiap orang tak memiliki kuasa alamiah kepada orang lain. Untuk itu orang-orang berkumpul dan bergabung kedalam masyarakat untuk mencapai kestabilan ini, atau dengan kata lain, manusia membentuk kelompok masyarakat untuk menghilangkan rasa tak aman, dan memenuhi kebutuhannya. Namun pengelompokan manusia menimbulkan dampak negatif yakni konflik-konflik pertikaian antar kelompok.
Tujuan makalah ini adalah untuk memberikan latar belakang teoritis kepada pertikaian antar kelompok. Teori yang dipakai adalah hasil penelitian dari Allport, Sherif Alasannya adalah sampai sekarang banyak orang yang bersikap seperti pemadam kebakaran dalam menghadap kerusuhan antar kelompok: yakni bereaksi tanpa berusaha untuk mengerti latar belakang pertikaian antar kelompok. Dengan memberikan latar belakang teoritis, diharapkan agar kita bisa lebih mengerti mengapa pertikaian antar kelompok terjadi dan langkah-langkah yang bisa diambil berdasarkan latar belakang ini.
B. Penyebab Konflik Versi Penelitian Psikologis
Kebencian antar kelompok bukan merupakan sesuatu hal yang baru dalam sejarah. Alkitab sendiri memiliki banyak contohnya. Contoh yang paling pertama adalah Kain yang membunuh Habil. Walau kebanyakan orang memandang kisah ini sebagai pembunuhan antara saudara, namun kalau kita perhatikan lebih dalam lagi, kisah meyedihkan ini juga menggambarkan pertentangan antara dua kelompok, peternak dan petani, yang berakhir dengan tertumpahnya darah peternak.
Salah satu sebab pertikaian antar kelompok yang sering disebut adalah perebutan sumber daya alam yang memang terbatas. Namun, beberapa penelitian psikologis menunjukkan penyebab yang tak terduga, bahwa penyebab pertikaian ini tak hanya oleh kebutuhan pokok, tapi juga oleh adanya sikap 'in-group' dan 'out-group.' Salah satu penelitian ini dilakukan oleh Sherif di tahun 1950-an. Sherif membuat dua kelompok besar di satu "summer camp." Dalam minggu pertama, tak ada pertemuan antara dua kelompok itu. Pada minggu kedua, kedua kelompok ini dipertemukan dalam situasi kompetisi seperti pertandingan. Hasilnya adalah identitas pengelompokan menjadi bertambah kuat dan terjadi sikap bermusuhan antara kedua kelompok itu. Di minggu ketiga, Sherif membuat kedua kelompok tersebut untuk melakukan kerja sama dalam tugas-tugas yang diberikan. Hasil penelitiannya menyebutkan bahwa antagonisme kelompok jauh berkurang di minggu ketiga akibat berkembangnya rasa kepercayaan antara kedua kelompok.
Dalam penelitian Sherif, ternyata terlihat bahwa kedua kelompok itu sudah memiliki rasa tak suka kepada kelompok lain pada saat mereka baru saja bertemu, sebelum kompetisi mulai diadakan. Tajfel melanjutkan experimen Sherif di tahun 1971 untuk melihat apakah identitas kelompok sebetulnya menyebabkan antagonisme itu. Ia membagi para partisipan ke dalam dua kelompok, di mana ia berusaha keras bahwa tak ada perbedaan yang menyolok antara kedua kelompok. Hasil penelitiannya sangat mencengangkan. Tanpa ada provokasi pun, kedua kelompok itu sudah memiliki pandangan yang tidak bagus kepada kelompok lain. Lebih mencengangkan lagi, diskriminasi kepada kelompok lain dilakukan hanya dengan basis bahwa orang-orang lain bukan kelompoknya, padahal tak ada persamaan apapun dalam anggota kelompoknya. Antagonisme itu terlihat dalam experimen berikut:
In group gain 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19
Out group gain 1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25
Dalam experimen di atas, satu kelompok (in group) perlu memberikan uang kepada kelompok lain (out group). Secara logika, yang terbaik untuk kelompok in group adalah mengambil 19 dan memberikan 25 kepada kelompok lain, sehingga mencapai absolute gain. Namun dalam prakteknya, kedua kelompok itu justru mengambil lebih sedikit dari 13 dengan tujuan memberikan lebih sedikit kepada kelompok yang lain. Intinya, your gain is my pain.
Terlihat dari eksperimen-eksperimen di atas bahwa dengan hanya menganggap dirinya tergabung dalam satu kelompok, seseorang menjadikan dirinya berbeda dari kelompok-kelompok lainnya (outgroup). Secara otomatis, keputusan-keputusan yang diambilnya pun akan sangat dipengaruhi rasa identitasnya kepada kelompoknya. Keputusannya akan sangat menguntungkan kelompok pribadinya dan ia menjadi sangat curiga kepada kelompok lain. Dengan ini, seseorang akan merasa tekanan kepada kelompoknya adalah tekanan kepada dirinya sendiri, dan keuntungan kelompoknya adalah keuntungannya sendiri.
Di experimen lain yang dilakukan Sherif, di mana satu anggota kelompok perlu memberikan uang kepada orang lain, hanya dengan mengetahui bahwa orang yang diberikan merupakan kelompoknya, orang itu memberikan jauh lebih besar daripada kepada orang yang dari kelompok lain; padahal mereka belum pernah bertemu sebelum experimen ini. Alasan dari sikap tersebut adalah orang itu yakin bahwa orang di kelompoknya akan melakukan tindakan yang sama, yakni memberikan uang yang lebih kepada anggota kelompoknya daripada kepada kelompok lain. Terlihat bahwa seorang individual sangat bergantung kepada kelompoknya sebagai sarana untuk mendapatkan sebuah kestabilan, dimana terjadi prinsip "I scratch your back and you scratch mine."
Selain teori-teori yang disebutkan di atas, masih banyak teori yang beredar seperti teori authoritarianism, teori kelompok, dan Marxism. Namun satu teori yang menarik dikemukakan oleh Sidanius (1999) yang menyatakan bahwa semua kelompok manusia terdiri dari hierarchy dimana ada kelompok yang dominan dan kelompok yang dikuasai. Dari sana, segala bentuk oppression di masyarakat adalah usaha-usaha untuk mempertahankan hierarchy yang terbentuk, dimana kaum penguasa berusaha mempertahankan kekuasaannya.
Usaha oppression untuk diskriminasi ini dapat dibedakan menjadi tiga:
1. Diskriminasi umur
2. Diskriminasi seks
3. Diskriminasi yang merupakan bentukan dari system social, seperti ras, etnis, kelas, agama, negara, dsb.
Menurut Sidanius, diskriminasi umur dan seks merupakan sesuatu yang merupakan hal naluriah dalam kehidupan yang tak bisa diubah. Selain itu juga, diskriminasi umur dan seks bukan sesuatu yang pasti akan menimbulkan pertumpahan darah. Mengapa? Karena kaum penguasa tetap membutuhkan, atau lebih tepat lagi, tak dapat hidup dan membentuk masyarakat tanpa orang-orang muda dan wanita, terutama kaum wanita, yang berfungsi untuk reproduksi dan memperkaya 'gene pool.' Menurut Sidanius, kaum wanita sebetulnya lebih dipandang sebagai 'resources' daripada sesuatu yang didiskriminasikan.
Namun target diskriminasi yang adalah kaum laki-laki dari kelompok yang berbeda secara ras, etnis, kelas, agama, dsb. Alasannya adalah para penguasa masih bisa membentuk masyarakat dengan diskriminasi kepada laki-laki. Lagipula, dimana-mana, laki-laki adalah kaum yang dipanggil jika terjadi perang, sehingga bisa menjadi bibit pemberontakan di masa depan. Karena itu,sering sekali dalam perang antar suku atau masyarakat, pihak pemenang selalu menangkapi atau memperkosa kaum wanita sementara membunuh semua kaum laki-laki. Hal itu disebabkan karena hal di atas: wanita dibutuhkan, sementara kaum laki-laki lebih dianggap sebagai ancaman di masa depan. Hal ini terlihat dari foto-foto tentang pembunuhan di Kalimantan ataupun di daerah lain, dimana kebanyakan korban merupakan pria dan anak laki-laki. Begitu juga yang terjadi di Bosnia dan di banyak daerah-daerah kerusuhan etnis lain: kaum laki-laki dibasmi dan wanita diperkosa.
Jika saya tambahkan teori Sidanius dengan memakai issue 'kekuasaan,' sebetulnya keributan SARA merupakan tanda perebutan kekuasaan dari kelompok-kelompok daerah setelah pemerintah pusat yang merupakan penjamin atau arbiter kehilangan kekuasaannya yang tadinya mutlak dan memaksa perdamaian diantara golongan-golongan yang bertikai. Dengan kehilangan pemerintah pusat sebagai penjamin perdamaian bersama, terjadi vacuum of power di daerah dan kelompok-kelompok yang bertikai, dengan berasumsi bahwa segalanya adalah 'zero sum' situation, melakukan politik penghancuran kepada kelompok-kelompok lain. Dengan menggunakan "game theory" dan rational choice, kondisi ini bisa kita gambarkan ke tabel ini:
Grup A
Grup B Damai Perang
Damai (3, 3) (-10, 2)
Perang (2, -10) (-5, -5)
Catatan: angka-angka di atas hanya merupakan pengandai. Perlu data/penelitian lebih lanjut untuk bisa memasukkan angka-angka sesuai dengan fakta.
Dalam tabel di atas dapat kita lihat bahwa kedua kelompok sebetulnya akan saling beruntung jika keduanya mau berdamai. Namun jika satu kelompok "berkhianat," maka kelompok yang berkhianat tak akan rugi, namun yang dikhianati mengalami kerugian yang sangat tinggi. Jika kedua kelompok berperang, mereka berdua rugi, tapi setidaknya mereka tidak sangat dirugikan kalau dikhianati.
C. Implikasi Teori dengan Konflik SARA
Bagaimana implikasi hal ini kepada kerusuhan SARA di Indonesia? Dengan memakai teori Sidanius, kita bisa lihat bahwa kerusuhan SARA di Indonesia merupakan kerusuhan yang dialamatkan kepada kaum laki-laki dari suku, agama, ras, dan golongan yang berbeda. Kelompok dominan yang melakukan penyerangan secara SARA merasa bahwa kelompok-kelompok lain merupakan ancaman untuk dominasi mereka, karena itu perlu diadakan pembersihan secara total kepada kelompok-kelompok yang dianggap berbahaya.
Tak heran bahwa akhirnya pihak-pihak yang bertikai di Indonesia lebih memilih untuk terus berperang daripada mengambil resiko untuk dihianati. Lebih parah lagi, mereka sebetulnya melakukan sikap Vladimir, yakni:
Vladimir adalah seorang yang miskin sekali dengan 15 anak kecil. Keluarganya sangat berkekurangan, bahkan tak ada yang lebih miskin lagi daripada Vladimir di seluruh Russia. Pada suatu hari, Tuhan datang ke Vladimir, dan menyatakan bahwa Ia akan mengabulkan satu permintaan kepada Vladimir, namun dengan catatan bahwa apa yang ia minta akan diberikan dua kalinya kepada semua tetangganya. Dengan segera Vladimir menjawab, "Tuhan, ambil sebelah mata saya."
Sikap Vladimir ini dilakukan oleh hampir semua kelompok yang bertikai baik di Indonesia ataupun di negara-negara dunia lain. Sebagai contohnya, milisi di Timor Timur menghancurkan Dili sebelum mereka meninggalkan Timor Timur ke Timor Barat. Ambon menjadi puing-puing akibat keributan SARA. Di Sampit dan daerah-daerah Kalimantan lain, kaum Dayak menghabisi kaum Madura yang sebetulnya merupakan pilar ekonomi di daerah. Kejadian yang sama juga terjadi di Mei 1998, di mana kaum Cina yang menguasai perekonomian Indonesia diserang. Implikasinya adalah, ancaman ekonomi bahwa "semakin kamu merusak semakin buruk keadaan ekonomi Indonesia" ternyata tidak cukup mempan sebagai 'deterrence' agar kaum yang merasa tersisih menyerang kaum minoritas yang dianggap tamak. Alasannya telah disebutkan di atas: saya tak peduli kalau kondisi saya semakin buruk, karena yang penting akhir kondisi kamu jauh lebih buruk daripada kondisi saya entar. Hal ini perlu menjadi lampu merah bagi mereka yang berpikir bahwa bread and circus cukup untuk memulihkan kestabilan nasional, karena kebencian laten yang terus menerus dipendam dapat meledak sewaktu-waktu. Untuk itu perlu dipikirkan cara-cara untuk lebih menghilangkan rasa curiga atau dampak SARA di dalam masyarakat.
Bagaimanakah cara menghilangkan rasa curiga kepada group lain? Allport menyatakan bahwa rasa ketidakpercayaan antar group bisa dihilangkan jika group-group yang bertikai bisa berusaha meraih tujuan yang sama. Usaha ini bahkan bisa berdampak lebih besar lagi jika disepakati untuk membentuk badan yang mewakili grup-grup tersebut. Intinya adalah perubahan asumsi dalam hubungan antar grup, yakni dari "zero sum game" menjadi "unlimited game," dimana grup-grup tak lagi merasa keuntungan grup lain merupakan kerugiannya, namun keuntungan grup lain adalah keuntungannya sendiri. Hal ini menunjukkan kesesuaian penelitian Allport, dimana hasilnya :
high
consistent hit &miss non-attenders
attenders attenders
Hasil penelitian diatas sesuai dengan penelitian Allport yang berkaitan antara Instrinsik-Ekstrinsik dengan prejudice. Dimana hasilnya mereka yang berorientasi I lebih rendah dalam tingkat prasangkaan yang lebih tinggi.
Secara kasat mata pembunuhan etnis Cina dalam peristiwa Mei 1998 adalah kekejaman yang tidak dapat dimaafkan oleh siapapun dan agama apapun. Bagaimana bisa seseorang tersulut amarah sedahsyat itu sampai tega menghilangkan nyawa yang lain dengan tiada merasa bersalah sedikitpun. Kita tidak mempertanyakan hal itu lebih jauh. Yang perlu kita cermati dan pertanyakan adalah bagaimana motiv beragama mereka ? Kita tidak bisa menggeneralisis bahwa orientasi pelaku semua sama, karena kita tidak meneliti orientasi itu secara sama rata tetapi personal, hanya saja kita dapat melihat dari alasan kecemburuan pelaku yaitu, karena motiv ekonomi. Kecemburuan tingkat social dan ekonomi ini menyangsikan janji Tuhan bahwa semua orang telah diatur rezekinya.
Kita tidak dapat menyangsikan bahwa sekian banyak pelaku pembunuhan, pemerkosaan dan penjarahan itu adalah mereka yang rajin dalam aktivitas ibadah seperti, rajin pergi ke Masjid, ke Gereja dan tempat pembinaan keagamaan lainnya. Mereka yang selama ini diajarkan saling hormat-menghormati, menjauhkan kekerasan, tidak mempersoalkan SARA, sehingga tingkat ketaatan mereka untuk selalu taat kepada ajaran agama tidak mewakili orientasi keberagamaan.
Allport menyajikan penelitiannya bahwa mereka yang rajin datang ke Gereja juga mempunyai tingkat tinggi dalam nilai prasangkaan (prejudice).
high
low
Yes No
Church attendance Church attendance
Dalam bagan ini Allport menyatakan bahwa yang rajin ke Gereja malah mempunyai tingkat prejudice yang tinggi, sedangkan yang tidak rajin malah memiliki tingkat rendah.
Apakah dalam kasus pemerkosaan, pembunuhan dan pengrusakan atas etnis Cina tidak ada yang menolong ?. Sebenarnya ada para penolong itu tetapi sangat rendah, hal ini dikarenakan kadang sang penolong itu juga memikirkan situasi yang sangat tidak memungkinkan untuk menolong, mereka terkadang lebih sering memikirkan keselamatan diri sendiri. Apa yang terjadi ini sangat sesuai dengan apa yang dihasilkan dari experiment Good Samaritan, dimana empat puluh orang Seminarian di perintahkan untuk melakukan perintah dalam keadaan yang kacau dimana banyak korban berjatuhan. Enam belas dari empat puluh orang tersebut menolong korban tetapi lebih banyak yang tidak menolong.
60
50
40
30
20
10
Low Medium High
Degree of Righ
Dari bagan di atas, jika keadaan kian kacau maka akan jarang ada orang lain yang menolong korban yang ada. Tetapi jika tingkat kekacauan rendah, maka hal itu akan membuat banyak orang lebih mau menolong korban yang ada.
Hal inilah yang berhasil dibuktikan Sherif dalam eksperimennya di minggu ketiga seperti yang telah disebutkan diatas, dimana kelompok-kelompok yang bertikai dipersatukan dan "dipaksa" untuk menyelesaikan permasalahan bersama. Hal ini bisa terjadi karena dengan "unlimited game" ini, grup-grup itu dilebur menjadi satu grup besar yang memiliki kepentingan dan tujuan yang sama.
Argumen yang "menentang" pemecahan ini yakni masalah terbesar yang terjadi di Indonesia adalah grup-grup yang bertikai sudah sulit sekali untuk dipersatukan karena kebencian yang cukup tinggi antara keduanya. Tak seperti eksperimen Sherif dimana permusuhan lebih disebabkan oleh kompetisi, di Indonesia kompetisi atau kerusuhan antar grup sudah mengorbankan nyawa. Tambahan lagi, menurut 'prospect theory,' seseorang akan lebih merasakan kerugian daripada kesenangan dan lebih lama memendam rasa sakit akibat dirugikan. Contohnya saja, seorang siswa yang mendapatkan nilai A mungkin hanya akan senang sebentar, tapi seorang siswa yang mendapatkan nilai F akan memikirkan hal ini lama sekali, mungkin sampai berhari-hari, dan mencoba protes kepada dosen yang memberikan nilai ini. Argumen yang sama jika diterapkan kepada kerusuhan-kerusuhan etnis adalah rasa kerugian yang telah diterima oleh pihak-pihak yang bertikai sudah sangatlah tinggi sehingga kebencian itu bisa menjadi berdarah daging.
Namun logika yang sama juga bisa diterapkan sebagai usaha penyelesaian masalah. Jalan pertama adalah campur tangan pihak ketiga yang membantu mengubah "biaya" dalam tabel diatas, yakni meningkatkan harga yang perlu dibayar penghianat. Jadi jika tadinya biaya buat penghianat adalah -1 yang berasal dari keuntungan yang hilang, mungkin biayanya akan sangat ditinggikan, seperti -10 sedangkan biaya yang perlu dibayar pihak yang dihianati dikurangi secara drastis dari -13. Salah satu cara untuk memberikan insentif ini adalah dengan membentuk pemerintahan koalisi, seperti yang sekarang sedang dilakukan di Irlandia Utara atau di negara-negara lainnya. Hal ini dimaksud untuk mempertinggi biaya yang perlu dibayar oleh kelompok-kelompok yang mau berhianat, karena dengan berhianat mereka berarti akan kehilangan posisi mereka di pemerintahan koalisi yang baru. Intinya, kita akan membuat setiap kelompok memiliki vested interest dalam kelangsungan pemerintahan yang baru ini. Insentif ini juga perlu ditambah dengan pengiriman tentara untuk menambah biaya yang perlu dibayar jika satu pihak berhianat. Lebanon merupakan salah satu contohnya, dimana pertikaian agama berlangsung bertahun-tahun karena memang tak ada yang bisa menggaransi keselamatan tiap kelompok sampai terjadi gencatan senjata beberapa tahun yang lalu di mana pemerintah koalisi yang baru akhirnya dibentuk.
Jadi intinya bukan hanya kebencian massal, namun masalah sebenarnya lebih tepat adalah tak adanya rasa percaya antara kedua kelompok dimana keduanya takut untuk berhenti berperang karena biaya dikhianati jauh lebih tinggi daripada biaya perang dan keuntungan untuk berkooperasi jauh lebih tinggi daripada biaya dikhianati. Untuk itu sekali lagi dibutuhkan pihak ketiga yang menaikkan biaya untuk berhianat dan mengurangi biaya dihianati. Namun kasus Maluku memperlihatkan bahwa pasukan yang dikirim pemerintah pun bisa terjebak dengan mendukung pihak-pihak yang bertikai. Tapi saya yakin bahwa hal ini lebih disebabkan oleh lemahnya pemerintah pusat sehingga pasukan-pasukan yang membangkang tak mengalami kerugian yang besar dengan bersekutu dengan satu pihak dalam kerusuhan.
D. Penutup
Semua yang telah dituliskan diatas merupakan sesuatu yang perlu dilakukan pemerintah. Namun, apakah yang perlu dilakukan kita di Amerika Serikat selain berdoa? Ada beberapa caranya, yakni pertama-tama memandang keributan ini bukan dari kacamata Kristen-Islam saja, melainkan dari penilaian objektif tentang mengapa hal ini bisa terjadi. Jika kita hanya memandang dari kacamata Kristen-Islam, kita akan terjebak dalam dialektika yang tak habis-habisnya dan melupakan akar keributan, yakni rasa diperlakukan tidak adil.
Selain itu, kita harus lebih banyak tahu tentang fakta di lapangan dan berusaha mengendalikan dana yang kita salurkan untuk membantu korban di lapangan. Kita harus berusaha agar dana yang dikirimkan tidak jatuh ke tangan kaum ekstrimis, melainkan ke tangan rakyat korban kerusuhan. Ingat, kita perlu berusaha meninggikan biaya kelompok yang mau berhianat. Jika kita melihat kaum Kristen yang merupakan biang keladinya, kita harus bersikap keras kepada kelompok itu. Untuk itu persatuan dan koordinasi dari orang-orang Kristen sangat diperlukan.
Selain itu, perlu diingat bahwa banyak rakyat tak berdosa dari kedua belah pihak yang bertikai sudah bosan perang dan mereka ingin kembali ke tempat tinggal asalnya dan hidup seperti semula dan rakyat sendiri bisa menjadi faktor pengikat bagi pihak-pihak yang ingin berperang. Contohnya saja waktu di Irlandia Utara salah satu kelompok gerilyawan meledakkan bom lagi, terjadi protes besar-besaran yang dilakukan oleh rakyat dari kaum Katolik dan Protestan dan menyebabkan pemboman berhenti. Hal seperti ini belum terjadi di Indonesia, di mana kaum mayoritas yang ingin damai namun tak berani mengungkapkan pikirannya keluar dan melakukan protes kepada kerusuhan-kerusuhan yang terjadi. Salah satu yang bisa kita lakukan adalah berusaha menggalang masyarakat ini untuk mengutuk setiap perbuatan yang menuju ke arah perang.
DAFTAR PUSTAKA
Allport, G. W., The Nature of Prejudice (Cambridge: Addison-Wesley, 1954).
Armada Riyanto, CM., Melacak Akar Kekerasan : Perspektif Filsafar dalam Abdul Qodir Shaleh, Agama Kekerasan (Yogyakarta: Prismasophie, 2003).
Coser, L. A., The Functions of Social Conflict (New York: Free Press).
Paloutzion,R.F., Invitation to Psycology of Religion, (Boston: Allyn and Bacon, 1996)
Sherif, M., Harvey, O.J., White, B.J., Hood, W. R., & Sheriv, C. W., Intergroup Conflict and Cooperation: The Robbers Cave experiment (Norman: University of Oklahoma Book Exchange, 1961).
Sidanius, Jim, and Felicia Pratto, In Social Dominance: An Intergroup Theory of Social Hierarchy and Oppression (New York: Cambridge University Press, 1999).
Thoha Hamin, dkk, Resolusi Konflik Islam Indonesia ( Surabaya:LSAS dan IAIN Sunan Ampel Press, 2007).
Tajfel, H., Cognitive aspects of prejudice In Journal of Social Issues, 25, 1969, p. 79-97.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar